facebook

Selasa, 19 Februari 2013

PENTINGNYA SIFAT ADIL BAGI SEORANG PEMIMPIN


من يهد الله فهو المهتد ومن يضل فلن تجد له وليا مرشدا ( الكهف 17)
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah,maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya…
(QS. 18: 17)

Sebelum Malik al-Asytar ditunjuk sebagai Gubernur Mesir, Khalifah Ali bin Abi Thalib memperingatkannya: “Pemimpin harus sejajar dengan yang dipimpinnya, berusaha memberi penerangan dan meringankan beban yang miskin dan papa. Kehancuran bumi hanya terjadi karena pemimpin sibuk dengan diri sendiri untuk mengumpulkan kekayaan, mengkhawatiran keberlangsungan kekuasaan dan mengambil keuntungan dari jabatan mereka.”
  
Nasehat Ali terhadap Malik tersebut layak menjadi pelajaran bagi para pemimpin di setiap zaman, termasuk para pemimpin hari ini. Dari kalimat bijaksana dan tajam Ali itu terdapat filsafat yang kuat bagaimana seharusnya seorang jadi pemimpin. Dari situ juga dapat dipahami bahwa dalam perspektif Islam, pemimpin itu gaya hidupnya jangan terlalu berbeda jauh dari rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin tak selayaknya bergelimang kemewahan, sementara rakyat dipaksa menikmati kemiskinan.

 Menjadi pemimpin itu harus rela bersusah payah untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan dan kemelaratan. Jabatan bukanlah anugrah untuk menikmati hidup mewah, tapi merupakan amanah untuk mengangkat derajat hidup rakyat derita sejarah.
  
Bersikap adil adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi seorang pemimpin. Keadilan yang benar-benar adil, tidak berstandar ganda , hanya adil terhadap orang-orang terdekat, karib kerabat, atau konglomerat, tapi mesti adil terhadap semua pihak, semua lapisan masyarakat. Amatlah buruk akibatnya bila seorang Muslim tak bersikap adil apalagi seorang pemimpin.

 Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang selalu berjuang dan berada di garda terdepan bila rakyat ditindas, dianaiaya dan dizalimi. Sebagaimana bunyi sebuah hadis, tidak ada dosa yang lebih cepat mendapat balasan kecuali menindas orang lain. Bagi para penindas, apalagi pemimpin yang suka menindas, tak hanya akan menerima hukuman di akhirat, tapi hukuman itu akan langsung diterimanya di dunia, cepat atau lambat.

 Begitu pentingnya sifat keadilan mesti melekat pada diri seorang pemimpin, dalam salah satu mazhab Islam (Syi’ah) dikenal sebuah prinsip politik yang barangkali kedengaran musykil: lebih baik dipimpin oleh seorang pemimpin yang adil meskipun dia seorang non-Muslim ketimbang dipimpin seorang Muslim tapi tidak adil dan zalim. Prinsip ini dapat dipahami bahwa kita jangan terpesona hanya karena pemimpin itu melakukan shalat, berpusa dan berhaji. Yang mesti dinilai pada seorang pemimpin adalah, sejauh mana dia telah menjalankan amanah seperti bunyi nasehat Ali bin Abi Thalib di atas.

Kemudian Ali bin Abi Thalib menegaskan, Tuhan Maha Adil, keadilan itu harus mengalir dalam diri seorang manusia. Manusia dituntut adil terhadap Tuhan dan makhluknya. Agar adil kepada Tuhan, manusia dituntut beramal shaleh, bermoral dan memenuhi tujuan penciptaaannya yaitu menyembah Tuhan. Agar adil terhadap makhluk Tuhan, manusia harus memberikan setiap makhluk haknya dan bertindak terhadap makhluk-makhluk itu sesuai dengan hak-hak mereka.
Lebih jauh diingatkan Ali, pengaruh kekuasaan dapat begitu mudah merusak masyarakat, keadilan begitu mudah dibelokkan oleh penguasa yang zalim, menindas dan korup. Rakyat tak mungkin menjadi baik apabila penguasa mereka tidak baik dan tidak adil namun begitu pula sebaliknya, pemimpin sulit menjadi baik apabila mayoritas rakyatnya tidak baik. Bagaimanapun, pemimpin adalah representasi dari mayoritas rakyatnya.

 Kepada seorang pemimpin mesti terus dipertanyakan, apakah amanah yang mereka sandang sudah sepenuhnya untuk menyejahterakan rakyat ataukah hanya untuk memuaskan diri mereka akan kenikmatan berkuasa dan abai dengan realitas yang sesungguhnya yang dialami rakyat.

 Kepemimpinan dalam Islam adalah suatu syarat mutlak akan keberadaan suatu masyarakat, kaum dan bangsa. Kepemimpinan gunanya adalah untuk menegakkan hukum supaya berjalan dengan seksama, agar terwujud distribusi ekonomi supaya kekayaan tidak hanya berputar pada segelintir orang dan untuk mewujudkan kemajuan masyarakat lewat pendidikan.

 Jika pemimpin mampu untuk bertindak adil, rakyat wajib mematuhinya, namun jika pemimpin zalim, rakyat wajib melawannya. Rakyat yang mayoritas baik akan melahirkan seorang pemimpin yang baik pula, begitu pula sebaliknya. Mungkin itulah maksud dari ayat yang dikutip pada awal tulisan di atas
الذين ينفقون فى السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعفين عن الناس والله يحب المحسنين . والذين اذا افعلووا فاحشة اوظلمواانفسهم لذنوبهم ومن يغفر الذنوب الاالله ولم يصرواعلى ما فعلوا وهم يعلمون.

Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Q.S. Ali 'Imran ayat 134-135).

Nabi Zulkifli: Pemimpin Yang Bertanggung Jawab

واسماعيل وادريس وذالكفل كل من الصبرين
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Anbiya‘ ayat 85).

واذكر اسمعيل واليسع وذاالكفل وكل من الاخيار
Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik/pilihan. (Q.S. Shad ayat 48).

 Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang memiliki tanggung jawab terhadap rakyatnya, sehingga kebutuhan-kebutuhan mereka dapat dipenuhinya dengan baik. Kebutuhan dimaksud hanya berkisar kepada dua persoalan yaitu tersedianya kecukupan pangan, dan adanya jaminan keamanan sebagaimana yang dapat dipahami melalui Q.S. Quraisy.
  
Tipologi pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab adalah tipologi kepemimpinan para nabi dan rasul Allah. Dikatakan demikian, karena hari-hari mereka selalu memikirkan keberadaan umatnya yang tidak saja menyangkut persoalan material, akan tetapi juga persoalan moral. Bentuk dari tanggung jawab yang mereka miliki ialah dengan menumpahkan segala potensi yang dimiliki seperti tenaga, waktu dan pemikiran hanya tertumpah untuk satu tujuan yang mulia yaitu memajukan dan memakmurkan rakyat.

 Prinsip yang sangat ideal dari pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab dan adil ini adalah prilaku mereka dalam menyikapi keberadaan negara dan rakyat. Dengan kata lain, jika negara sedang menghadapi kesusahan maka pemimpinlah orang pertama yang merasakan kesusahan tersebut. Sebaliknya, jika berkaitan dengan prihal nikmat dan kesenangan, maka pemimpinlah orang yang terakhir merasakan nikmat dan kesenangan dimaksud.

 Sosok yang ditonjolkan dalam tulisan ini adalah Nabi Zulkifli dimana bentuk tanggung jawabnya disebutkan Rasulullah berulang kali. Diceritakan bahwa Nabi Zulkifli pernah memberikan 60 (enam puluh) dinar kepada seorang perempuan. Tiba-tiba perempuan tersebut menangis lantaran tidak pernah menerima uang sebanyak itu, akan tetapi dinar yang sebanyak itu masih kurang bila dibanding dengan kebutuhannya. Kemudian Nabi Zulkifli memberikan semua dinar yang ada di tangannya kepada perempuan tersebut.
  
Selain Nabi Zulkifli, maka Umar bin Khattab pernah memanggul langsung sekarung gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yang miskin karena mendapatkan seorang janda memasak batu untuk menidurkan anak-anaknya. Kemudian Umar juga tidak memberlakukan hukum potong tangan kepada pencuri pada musim paceklik karena yang bertanggung jawab dalam kondisi ini adalah pemimpin lantaran tidak mampu menyediakan pangan kepada rakyatnya.

 Kasus Nabi Zulkifli di atas plus kasus yang diperbuat oleh Umar bin Khattab menunjukkan betapa pentingnya tanggung jawab bagi seorang pemimpin. bertanggung jawab dan adil ini muncul karena mereka adalah orang-orang yang terbaik di kalangan rakyatnya dan juga sosok yang benar benar pilihan dalam segala hal. Dan oleh karena itu, jika ingin mengharapkan pemimpin yang bertanggung jawab maka pilihlah sosok yang benar-benar memiliki kelebihan seperti sosok Nabi Zulkifli atau -paling tidak- seperti sosok Umar bin Khattab.

 Urgensi Memilih Pemimpin Yang Bertanggung Jawab dan adil

Salah satu sosok pemimpin yang patut untuk diteladani dalam persoalan tanggung jawab ini adalah Nabi Zulkifli. Al-Hafizh Ibn Katsir dalam bukunya Qashash al-Anbiya‘ menyebutkan, bahwa Nabi Zulkifli adalah sosok pemimpin yang paling bertanggung jawab dalam mengatasi kebutuhan umatnya. Selain itu Nabi Zulkifli juga senantiasa berlaku seadil-adilnya dalam menerapkan hukum di masyarakat. Oleh karena itulah maka beliau dinamai dengan Zulkifli yaitu “pemimpin yang berani memikul tanggung jawab”.

Kedua ayat di atas menyebutkan bahwa dalam hal kesabaran, maka Nabi Zulkifli disejajarkan dengan Nabi Ismail dan Nabi Idris. Dan adapun dalam bidang kebaikan maka Nabi Zulkifli disejajarkan dengan Nabi Ismail dan Nabi Ilyas. Dengan demikian, munculnya sifat kepemimpinan yang bertanggung jawab pada diri Nabi Zulkifli adalah sebagai implementasi dari sifat sabar dan sifat baik yang dimilikinya.

 Sifat sabar ini berkaitan dengan persoalan ketuhanan yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepadaNya dan menjauhi hal-hal yang berkaitan dengan maksiat, demikian menurut al-Qurthubi. Implikasi dari sifat sabar yang semacam ini akan memudahkan pelakunya dalam menghadapi kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Hal ini disebabkan bahwa persoalan yang ada di masyarakat jauh lebih ruwet bila dibanding dengan persoalan ketuhanan, dan karenanya diperlukan semacam training sebelum terjun memimpin masyarakat.

 Salah satu cerminan dari pemimpin yang bertanggung jawab adalah sabar dalam menghadapi tuntutan rakyat. Melalui sifat ini akan mudah baginya mencarikan solusi alternatif yang terbaik, bukan mencari-cari kesalahan dan kelemahan rakyat. Dengan demikian, maka pemimpin yang bertanggung jawab dan adil selalu menyalahkan dirinya dalam hal kegagalan, dan sama sekali tidak pernah menimpakan kegagalan tersebut karena ulah rakyatnya.

Rasa tanggung jawab ini harus muncul dari seorang pemimpin, karena keberadaannya sebagai orang yang terbaik dan juga sebagai orang pilihan di antara rakyatnya, sehingga dirinya dianggap sosok yang paling tepat memikul tangung jawab. Oleh karena itu, memilih sosok pemimpin yang seperti ini tidak boleh dilakukan secara serampangan akan tetapi harus dilakukan melakukan seleksi yang ketat. Akhir-akhir ini muncul kesan bahwa rakyat selalu dijadikan “kambing hitam” dari setiap kegagalan pemimpin. Bahkan ketika bencana menimpa sebagian negeri ini, maka yang disalahkan adalah rakyat karena mereka berdomisili di daerah-daerah yang rawan bencana, atau dituduh membuang sampah sembarangan. Vonis yang seperti ini menunjukkan nihilnya rasa tanggung jawab pemimpin karena nilai-nilai kesabaran tidak ada dalam dirinya.
  
Menyalahkan rakyat bukanlah tindakan yang terpuji bila suatu negara gagal dalam meraih cita-cita kemakmurannya. Adapun yang paling bertanggung jawab dalam persoalan ini adalah pemimpin. Alasannya ialah karena status mereka adalah orang yang terbaik dan yang terpilih di antara rakyatnya sebagaimana halnya Nabi Zulkifli dan nabi-nabi yang lain, demikian disebutkan dalam Q.S. Shad ayat 48. Ayat ini mengisyaratkan bahwa pemimpin yang harus ditaati adalah pemimpin yang memiliki tanggung jawab dan adil. Dan oleh karena itu, maka sifat ini dapat dijadikan sebagai salah satu kriteria untuk memilih pemimpin kapan dan dimanapun. Tanggung jawab ini dapat diukur melalui sifat kesabaran yang dimilikinya plus keberadaannya sebagai orang yang terbaik dan yang benarbenar pilihan di antara rakyatnya.

 Untuk mendapatkan pemimpin yang memiliki nilai plus di atas, maka diperlukan keseriusan dalam memilih bukan hanya sebatas pertimbangan menang popularitas. Idealnya, mereka yang dipilih adalah sosok yang terbaik di antara rakyat sebagaimana halnya Allah memilih Nabi Zulkifli yaitu sosok yang paling menonjol bila dibanding dengan umat yang dihadapinya. Hal ini dilakukan agar sosok yang dipilih benar-benar dapat bertanggung jawab dalam membawa rakyatnya untuk menuju kehidupan yang sangat layak.
 Penutup

Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa pemimpin yang bertanggung jawab dan adil tidak akan pernah muncul dengan sendirinya kecuali setelah lulus dalam meresponi perintah-perintah Tuhan. Tanggung jawab yang dimiliki oleh Nabi Zulkifli dalam tataran ini bukanlah datang dengan sendirinya, akan tetapi sifat ini muncul setelah melalui beberapa tahapan.

















DAFTAR PUSTAKA

Soenarjo,Prof.R.H.A,1994.Alqur’an&Terjemahannya,semarang,PT.Kumudasmoro Grafindo
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta, Kalam Mulia, 1990), h. 179.
Ahmadi, H Abu, 1979, akhlak Sosial, Bina Ilmu, Surabaya.
Al-Abrasyiy, Muhammad ‘A-iyyah. 1996. Roh Al-Islam, diterjemahkan oleh Syamsuddin Asyrofi et al. Dengan judul Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam (Cetakan Pertama).Yogyakarta: Titian Ilahi Press.




















ARTIKEL
                                                                
AKHLAK TASAWWUF


 









PENTINGNYA SIFAT ADIL BAGI SEORANG PEMIMPIN

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
AKHLAK TASAWWUF

Dosen Pembimbing : Drs.A.Mutohar,MM
Nim    :150 262 506

Oleh

Akhmad Zainullah (084094005)



 

 

 

 

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM MADIN

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER
2009








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar